PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Semua perusahaan yang bergerak dalam dunia bisnis,
tidak bisa melepaskan diri dari persaingan.walaupun perusahaan sudah
mengantisipasi dengan berbagai strategi yang dimiliki, namun pesaing juga tidak
mau menyerah begitu saja. Kondisi seperti itu merupakan risiko yang harus
dihadapi investor dalam mendirikan suatu perusahaan. Bisa juga terjadi bangunan
dan mesin yang dimiliki oleh perusahaan tanpa disengaja mengalami musibah
kebakaran. Keadaan semacam itu merupakan kemungkinan timbulnya risiko atau
ketidakpastian bagi perusahaan.
Pemodal
seharusnya menerima suatu proyek yang diharapkan memberikan NPV yang positif,
tidak berarti bahwa pemodal tersebut pasti akan menjadi lebih kaya. Masalahnya
adalah karena rencana investasi yang dianalisis merupakan rencana di masa yang
kakan datang. Tidak ada jaminan bahwa arus kas yang kita harapkan benar-benar
akan terealisir sesuai dengan harapan tersebut. Selalu ada unsure
ketidakpastian. Selau adaa risiko yang menyertai suatu investasi.bahkan dalam
teori keuangan disebutkan bahwa seseorang bisa menjadi lebih kaya disbanding
dengan yang lain adalah karena ia
bersedia menanggung risiko yang lebih besar. Mereka yang bersedia menanggung
risiko yang lebih besar mempunyai peluang yang lebih besar untuk menjadi lebih
kaya (dan juga untuk menjadi lebih miskin).
Pada prinsipnya semua keputusan yang diambil oleh
manajer keuangan baik yang menyangkut keputusan investasi, keputusan
pembelanjaan dan kebijakan dividen mempunyai tujuan yang sama. Semua itu
mensyaratkan suatu estimasi hasil yang diharapkan dan risiko atau kemungkinan
tidak diperolehnya hasil seperti yang diharapkan. Hasil yang diharapkan
diterjemahkan dalam tingkat keuntungan yang diharapkan atau expected return. Sedangkan risiko
berarti probabilitas tidak
dipercayainya tingkat keuntungan yang diharapkan atau kemugkinan return yang
diterima menyimpang dari return yang diharapkan. Semakin besar penyimpangan
tingkat keuntungan yang diharapkan, maka akan semakin besar pula tingkat
risikonya.
Asumsi penting dalam pembicaraan risiko dan tingkat
keuntungan yang diharapkan ini adalah bahwa setiap individu adalah rasional
yang tidak menyukai risiko atau risk
averter. Sikap idak meyukai risiko ini tercermin dari sikap bahwa setiap
individu meminta tambahan keuntungan yang lebih besar untuk setiap kenaikan
tingkat risiko yang dihadapi. Atau dengan kata lain misalkan individu
dihadapkan pada berbagai pilihan, maka individu tersebut akan menyukai untuk
memperoleh tingkat keuntungan yang sama dengan risiko yang lebih kecil. Dalam
hubungannya dengan asumsi yang mendasar tersebutkita dapat mengelompokkan
indivisu menjadi tiga kelompok: individu yang meyukai risiko, individu yang
tidak menyukai atau menghindari risiko, dan individu yang bersikap netral
terhadap risiko.
B. Rumusan Masalah
Dengan latar belakang yang telah diuraikan tersebut
maka masalah yang akan dijelaskan dalam
makalah ini adalah,sebagai berikut:
1. Kapan
kemungkinan timbulnya risiko dalam
investasi?
2. Bagaimana
kita merumuskan risiko dalam investasi modal?
3. Bagaimana
ketahanan investor menghadapi risiko dalam investasi modal?
C. Tujuan
Karya ilmiah ini disusun selain untuk memenuhi
kewajiban tugas mata kuliah Manajemen
Keuangan, juga bertujuan agar para pembaca dan penyusun yang setiap harinya
berhubungan dengan aktivitas investasi ( baik langsung atau tidak), akan lebih
mampu meminimalisasikan risiko yang akan diperoleh atas investasi yang dipilih
disamping pertimbangan penghasilan yang akan diperoleh nanti.
PEMBAHASAN
A. Landasan Teoritis
Risiko akan selalu ada dalam setiap investasi,
karena investor harus memproyeksikan berapa besarnya cashflow atau penerimaan yang akan diterima selama usia investasi.
Estimasi penerimaan yang diharapkan tersebut belum tentu sama dengan
kenyataanya karena adanya factor-faktor tertentu yang mempengaruhi. Apabila
faktor-faktor tertentu tersebut bisa diramalkan sebelumnya disebut sebagai
suatu risiko. Tetapi bila keadaan
yang akan dihadapi tidak dapat diramalkan sebelumnya disebut sebagai ketidakpastian.
Contoh risiko, misalnya seseorang memutuskan untuk
menanamkan uangnya dalam bentuk pembelian saham, maka orang ini akan menghadapi
dua kemungkinan, akan menerima dividen atau tidak menerima dividen bahkan bisa
ikut menanggung kerugian perusahaan. Dalam hal ini pembeli saham menghadapi
risiko. Berbeda bila seseorang tersebut membeli obligasi yang akan menerima
bunga sacara tetap setiap periodenya. Pembeli obligasi bisa dikatakan tidak
mempunyai risiko karena akan menerima bungan setiap periodenya walaupun
perusahaan yang mengeluarkan obligasi mengalami kerugian.
Contoh ketidakpastian adalah bila perusahaan
mengadakan investasi di Negara lain, maka akan timbul ketidakpastian tentang
kemungkinan adanya revolusi, tragedy, penjarahan, kemungkinan nasionalisasi
terhadap investasinya. Atau bila terjadi musibah banjir, kebakaran dan lainnya.
Dengan demikian pengertian risiko adalah kemungkinan timbulnya kerugian yang dapat
diperkirakan sebelumnya dengan menggunakan data dan informasi yang cukup
relevan.[1]
Sedangkan
investasi adalah:
1. segala sesuatu yang dilakukan untuk
meningkatkan kemampuan menciptakan/menambah nilai kegunaan hidup. Sedangkan
investasi dalam ekonomi makro adalah pengeluaran-pengeluaran yang meningkatkan
stok barang modal (capital stock).[2]
2. Investasi
menurut ilmu ekonomi adalah penundaan konsumsi hari ini demi memperoleh imbal
hasil pada masa yang akan datang.[3]
3. Investasi
adalah komitmen atas sejumlah dana yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan
memperoleh keuntungan di masa mendatang.[4]
Risiko investasi
adalah adalah penyimpangan dari penghasilan yang diharapkan.[5]
B. Pembahasan
1. Kemungkinan Timbulnya Risiko
Risiko tidak bisa dihindari dan pada umumnya risiko muncul dari tiga
kemungkinan:[6]
a. Besarnya
Investasi
Suatu
investasi yang besar memiliki risiko yang lebih besar disbanding investasi
kecil, terutama dari unsure kegagalannya. Apabila proyek dengan investasi besar
gagal, maka kegagalannya bisa mengakibatkan perusahaan menjadi bangkrut, sedang
investasi kecil mempunyai risiko yang kecil, artinya tidak terlalu banyak
mengganggu operasional perusahaan secara keseluruhan.
b. Penanaman
Kembali dari Cashflow
Apakah
perusahaan akan menerima proyek investasi dengan return 24% selama 2 tahun atau
yang mendatangkan keuntungan 20% selama 4 tahun? Jawabannya adalah seberapa
besar kemungkinan hasil dari penanaman kembali investasi denganhasil 24%.
Apabila risiko dari penanaman kembali proyek pertama tersebut besar, maka
proyek dengan hasil 20% lebih diutamakan
c. Penyimpangan
dari Cashflow
Cashflow
perusahaan didapat dari penerimaan-penerimaan keuntungan di masa yang akan
datang. Cashflow tersebut untuk
masing-masing proyek investasi tidak sama, ada yang variasinya besar dan ada
yang variasinya kecil. Bila variasi penerimaan besar maka risikonya juga besar,
demikian sebaliknya bila variasinya
kecil risiko yang dihadapi juga kecil.
2. Metode Perhitungan Risiko
Untuk membuat proyeksi penerimaan dengan
mempertimbangkan risiko, bisa digunakan beberapa metode analisa antara lain:
1. Analisis
Sensitivitas
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang paling
sederhana untuk menentukan risiko dari suatu proyek. Pendekatan ini berdasarkan
pada berbagai kemungkinan dari yang paling optimis sampai pada kemungkinan yang
paling pesimis. Analisis ini digunakan mengevaluasi proyek investasi dengan
cara menyusun estimasi dari cashflow dalam
berbagai variasi hasil yaitu:
a. Hasil
estimasi investasi secara optimis
b. Hasil
estimasi investasi secara wajar
c. Hasil
estimasi investasi secara pesimis[7]
Dalam analisis sensitivitas, perlu dicari jarak atau
range antara yang optimis, wajar, dan
pesimis. Investasi yang baik investasi yang range-nya
lebih kecil. Sebagai contoh ada dua proyek investasi yang membutuhkan dana
investasi sebesar Rp 500.000.000,- dan diketahui perhitungan rate of return
masing-masing sebagai berikut:
Rate
of return Investasi A dan B
|
|
Investasi
A
|
Investasi
B
|
|
Investasi
|
Rp
500.000.000,-
|
Rp
500.000.000,-
|
|
Optimis
|
20%
|
22%
|
|
Wajar
|
17%
|
16%
|
|
Pesimis
|
14%
|
10%
|
|
Range
|
6%
|
12%
|
Dari hasil perhitungan tersebut ternyata range antara
yang optimis dengan yang pesimis, investasi A menunjukkan yang lebih kecil,
artinya investasi A lebih kecil risikonya disbanding dengan investasi B.
2. Analisis
Statistik
Untuk menilai risiko suatu proyek bisa juga
digunakan analisis statistik, dan ada dua risiko investasi yang bisa dihitung,
yaitu:
a. Risiko
Arus Kas
Kalau kita berbicara tentang masa yang akan datang,
dan ada unsur ketidakpastian, maka kita hanya bisa mengatakan tentang nilai
yang diharapkan (expected value).
Sedangkan kemungkinan menyimpang dari nilai yang diharapkan diukur dengan
deviasi standar. Secara formal kedua parameter tersebut bisa dinyatakan sebagai
berikut:

Dalam hal ini E(V) adalah nilai yang diharapkan, Vi adalah nilai pada distribusi ke
i(i-1……n), dan P1 adalah probabilitas ke i.

Meskipun ada dua proyek A dan B yang, (untuk
mudahnya) mempunyai umur ekomnomis hanya satu tahun. Karakterisiknya arus kas
untuk kedua proyek tersebut adalah sebagai berikut:
|
Usulan
Investasi A
|
Usulan
investasi B
|
||
|
Probabilitas
|
Arus
Kas
|
Probabilitas
|
Arus
Kas
|
|
0,10
|
Rp
3.000,-
|
0,05
|
Rp
3.000,-
|
|
0,20
|
Rp
4.000,-
|
0,20
|
Rp
4.000,-
|
|
0,40
|
Rp
5.000,-
|
0,50
|
Rp
5.000,-
|
|
0,20
|
Rp
6.000,-
|
0,20
|
Rp
6.000,-
|
|
0,10
|
Rp
7.000,-
|
0,05
|
Rp
7.000,-
|
Dengan menggunakan rumus :
E
(VA) = Rp 5,000,-
E
(VB) = Rp 5.000,-
Dengan
demikian A dinilai lebih diskonto daripada investasi B.
Apabila
E(V) dari kedua investasi tersebut tidak sama, maka penggunaan a
sebagai indicator risiko menjadi sulit dilakukan. Untuk itu kemudian
dipergunakan covicient of variation
yang merupakan perbandingan antara a/E(V).
contohnya:
|
Keterangan
|
C
|
D
|
|
E(V)
|
1,000
|
1.500
|
|
a
|
400
|
500
|
|
Coeff,
of var
|
0,40
|
0,33
|
Mereka
yang menggunakan coeicient of variation
bahwa proyek C lebih berisiko disbanding dengan D, karena coefficient of variationnya lebih besar.
b. Risiko
Proyek
Seperti diketahui bahwa proyek investasi mempunya time frame jangka panjang. Oleh karena
itu aliran kas yang mempunyai risiko ini juga akan diterima dalam jangka
panjang. Aliran kas yang berjangka panjang ini ada yang bersifat independen, artinya bila aliran kas pada
tahun ke-n mengalami penurunan sebesar 30%, tidak akan mempengaruhi aliran kas
tahun ke n+1. Tapi ada juga aliran kas yang bersifat tidak indevenden yakni apabila aliran kas tahun ke-n mempengaruhi
aliran kas tahun ke n+1. Untuk investasi yang independen, maka untuk menentukan
proyek mana yang dipilih, perlu menentukan (1) NPV yang diharapkan, dan (2)
deviasi standar NPV tersebut.
Untuk menghitung PV dari nilai yang diharapkan,
rumus yang dipergunakan adalah sebagai berikut:

Dalam
hal ini C, adalah cashflow aatau
aliran kas satu tahun sampai tahun ke-n, dan r adalah retun yang diharapkan.
Untuk melengkapi analisis, maka perlu dihitung
besarnya deviasi standar NPV proyek tersebut, dengan formulasi sebagai berikut:[9]

Contoh
aliran arus kas independen:
Ada
2 proyek investasi A dan B yang sama-sama mempunyai umur ekonomis 2 tahun dan
membutuhkan dana sebesar Rp 700.000.000,-. Distribusi probabilitas dan arus kas
masing-masing usulan ivestasi selama umur ekonomisnya adalah:
|
Usulan
Investasi A
|
Usulan
Investasi B
|
||||
|
1
|
300.000.000
350.000.000
400.000.000
450.000.000
500.000.000
|
0,10
0,20
0,40
0,20
0,10
|
1
|
200.000.000
300.000.000
400.000.000
500.000.000
600.000.000
|
0,10
0,25
0,30
0,25
0,10
|
|
2
|
400.000.000
450.000.000
|
0,15
0,20
|
2
|
300.000.000
400.000.000
|
0,15
0,30
|
|
|
500.000.000
550.000.000
600.000.000
|
0,30
0,20
0,15
|
|
500.000.000
600.000.000
700.000.000
|
0,20
0,30
0,05
|
Dari data di atas, bisa dihitung nilai yang
diharapkan dari kedua usulan investasi tersebut sebagai berikut:
Dari
kedua proyek investasi tersebut bila dicari net present valuenya dengan return
diharapkan 15% adalah:
= 25.897.720,-
= 10.775.074,-
Kesimpulanya, bahwa kedua proyek tersebut menguntungkan dan yang
lebih menguntungkan proyek A.
Deviasi
standar NPV proyek tersebut adalah sebagai berikut.

= 67. 494.029,-

= 176.057.118,-
Dari
perhitungan tersebut menunjukkan bahwa deviasi standar untuk proyek A lebih
kecil, sehingga lebih baik disbanding investasi B.
Aliran
Kas yang Tidak Independen
Apabila aliran kas tahun pertama akan mempengaruhi tingkat
keberhasilan arus kas tahun berikutbya, maka aliran kas tersebut tidak
independen. Dan untuk itu perlu diperhatikan koefisien korelasi antar waktu
dari arus kas.
3.
Ketahanan Investor
Menghadapi Risiko
Masing-masing orang mempunyai ketahanan sendiri-sendiri dalam
meghadapi risiko investasi. Ketahanan atau sering disebut kepekaan investor
menerima risiko itu, dipengaruhi oleh mental pemberani atau penakut juga
dipengaruhi oleh pengalaman dan kondisi investor, misalnya, usia, keterbatasan
data, tujuan investasi dan lain sebagainya. Secara umum, kepekaan investor
menghadapi risiko dapat dikelompokkan menjadi 4, yaitu:[10]
a.
Risk
Averter
Risk averter adalah kelompok orang yang paling penakut
menghadapi risiko. Jika kita termasuk dalam kelompok ini, apakah kita tidak
boleh berinvestasi? Sebaliknya, ya. Karena berinvestasi sudah jelas mengandung
risiko, padahal kita takut dengan risiko, maka sebaiknya kita menghindari
risiko ini. Jika kita termasu dalam kelompok ini, sebaiknya tidak bertindak sebagai
investor, melainkan cukup sebagai saver atau
penabung.
Kalaupn kita ingin berinvestasi maka dipilih investasi yang
risikonya paling rendah. Jadi bagi kelompok ini pertimbangan utama dalam
memilih instrument investasi adalah risiko terendah bukan penghasilan yang
tinggi. Artinya jika kita titawari investasi dengan penghasilan yang tinggi,
tetapi dibarengi dengan risiko yang tinggi pula, mereka wajib menolaknya.
Sebalikanya, jika ada tawaran investasi yang pengahilannya rendah dan risiko
rendah, mereka bisa mempertimbangkannya.
Namun demikian, karena dalam akidah investasi, penghasilan yang
tinggi selalu diiringi risiko yang tinggi, maka risiko yang rendah yang
menyertai tawaran investasi yang memberikan penghasilan tinggi tersebut pasti
masih relati tinggi bagi risk averter.
Jika ada tawaran investasi yang memberikan penghasilan berapapun, tetapi
terbebas dari risiko, inilah pilihan terbaik bagi para risk averter.
b.
Risk
Taker dengan
Premium
Kelompok risk taker dengan premium dapat dikatakan sebagai kelompok yang cukup
berani menghadapi risiko yang akan diterima tanpa reserve. Kelompok ini selalu berharap risiko yang akan diterima itu
dikompensasikan atau ditambah dalam penghasilan yang akan diterimanya. Dengan
demikian, penghasilan yang diterima akan selalu lebih tingggi dari risiko yang
menyertai penghasilan tersebut.
Dalam kelompok ini, prinsip investasi yang dipegang adalah
selalu bersedia menaggung risiko selama penghasilan yang bakal didapat bisa
mengompensasi instrument investasi tersebut. Dengan demikian haruslah selalu
menghitung penghasilan dan risiko., ini adalah sikap investor sejati.
Aplikasinya, jika ada tawn investasi yan memberikan penghasilan berapapun yang
bebas risiko, jelas investor kelompok ini akan menolaknya, sebab penghasilan
yang diberikan oleh instrument investasi yang bebas risiko pastilah rendah,
padahal perhatian utaa risk taker with
premium bukanlah pada soal risiko.
c.
Risk
Take
Kita akan dikelompokkan sebagai risk taker, risk siker, risk
lover jika kita mrasa berani menghadapi risiko. Berani disini memiliki arti
bersedia menerima tawaran investasi yang memiliki risiko yang tinggi, meskipun
keberanian menghadapi risiko tersebut masih disertai kebiasaan memperhitungkan
penghasilan. Tentu saja, kelompok ini sedapat mungkin mendapat penghasilan yang
tinggi. Dalam bahasa akademis, risk taker
selalu menghendaki RR (require rate
of return atau penghasilan yang disyaratkan) yang tinggi. Karena fokus
kelompok ini pada penghasilan yang tinggi, maka risio tidak begitu menarik
perhatian mereka. Selama penghasilan yang akan diterimanya masih dianggap fair sesuai dengan tujuan investasinya
maka risiko menjadi pertimbangan kedua. Untuk mengompensasi pengabaian risiko
itu, risk taker biasanya mengajukan
persyaratan, tawaran investasi yang diajukan haruslah memiliki penghasilan yang
lebih tinggi dari yang diterima kelompok risk
taker with premium.
d. Indiferren Risk
Membicarakan risiko dengan orang yang memiliki kepekaan
menghadapi risiko netral sama saja berbicara dengan tembok, sebab orang-orang
dalam kelompok ini tak akan tertarik dengan risiko. Di dalam pikiran mereka,
risiko tidak relevan dibicarakan dalam urusan investasi. Memang kelompok ini
sekenal sangat menikmati risiko. Dalam melakukan investasi, indifferent risk tidak mengaitkan sama
sekali risiko dengan penghasilan. Artinya, kelompok ini bersedia menerima
penghasilan berapapun termasuk penghasilan terendah meskipun harus menghadapi
risiko yang sangat tinggi. Mereka tidak akan pernah memperhitungkan risiko yang
mengiringi penghasilan mereka. Kelompok ini sering dikatakan tidak memiliki
tujuan investasi, selain menikmati risiko itu sendiri, mereka enjoy dengan risiko.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Risiko tidak bisa dihindari dan pada umumnya risiko muncul dari tiga
kemungkinan:
1. Besarnya investasi
2. Penanaman kembali dari cash flow
3. Penyimpangan dari cash flow
Untuk membuat proyeksi penerimaan dengan
mempertimbangkan risiko, bisa digunakan beberapa metode analisa antara lain:
a. Analisis
Sensitivitas
b. Analisis
Statistik
Semakin tidak pasti arus kas, semakin berisiko proyek tersebut. Apabila
ketidakpastian proyek arus kas ini diperhatikan dalam konteks proyek maka
umumnya dijumpai adanya korelasi antara arus kas pada waktu t dan pada waktu t+1.
Pada waktu kita mulai memperhatikan ketidakpastian ini, maka kita hanya dapat
mengatakan bahwa NPV yang diharapkan dari suatu proyek adalah bernilai
tertentu, perhitungan NPV yang diharapkan mengandung bebas risiko, karena
kemungkinan dari penyimpangan dari expected NPV tersebut yang dipergunakan
sebagai ukuran risiko.
Dengan adanya risiko yang akan diperoleh maka tidak semua investor
memiliki kepekaaan yang sama untuk mengendalikannya. Karena investor ada yang
sangat tidak suka dengan risiko namun menerima penghasilan yang rendah, ada
pula investor yang berani menghadapi risiko jika, risiko tersebut
dikompensasikan, investor lain berani mengahadapi risiko dengan tetap
mempertimbangkan hasil, dan yang terakhir tidak mempermasalahkan risiko dalam
berinvestasi atau enjoy terhadap risiko.
B. Saran
Dengan adanya karya
ilmiah ini penyusun menyarankan dalam melakukan investasi manajer keuangan
ataupun orang yang berperan dalam kegiatan investasi tetap mempertimbangkan
risiko yang akan ditanggung dengan pertimbangan penghasilan yang akan diperoleh
dengan menggunakan berbagai perumusan yang telah dijelaskan dalam karya ilmiah
ini.
[1]Sutrisno, Manajemen Keuangan, (Yogyakarta:
Ekonisia, 2009), hlm. 163.
[2]Prathama Rahardja, dkk., Pengantar
Ilmu Ekonomi, (Jakarta: FEUI, 2008), hlm. 269-270.
[3]Hardono Murdianto, Inti Sari
Manajemen Keuangan, (Jakarta: Grasindo, 2008), hlm. 195.
[4]Eduardus Tandelilin, Portofolio
dan Investasi, (Yogyakarta: Kanisius, 2010), hlm.2
[5]Sawidji Widoatmodjo, Pasar
Modal Indonesia(Jakarta: Ghalia Indonesia, hlm. 154.
[6]Sutrisno, Op.Cit., hlm.
163.
[7] Ibid., hlm. 164
[8] Suad Husnan, Enny Pudjiastutu, Dasar-Dasar
Manajemen Keuangan, (Yogyakarta:
YKPN, 2002),
hlm. 232-233.
[9] Sutrisno, Op.Cit.,
hlm168.
[10] Sawidji Widoatmodjo, Op.Cit.,
hlm. 155-157.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar