MID SEMESTER KEGIATAN USAHA BANK
NAMA :
JENNI
JURUSAN/SEM : PS-2/ V
(Lima)
SOAL:
1. Sebutkan defenisi ba’I al-wafa’ , tawarruq, ba’I bithaman ajil,
ba’I inah dan ad-dayn !
2. Uraikan pendapat ulama terhadap produk Perbankan Syariah tersebut
di atas !
3. buatlah contoh masing-masing akad di atas dan jelaskan akad
tersebut dalam bentuk bagan taransaksi di Perbankan Syariah !
4. Uraikan persamaan dan perbedaan ba’I al-wafa’, tawarruq, ‘inah dan
ad-dayn !
JAWAB
1.
Defenisi
|
Produk
|
Defenisi
|
|
|
etimologi
|
terminologi
|
|
|
Ba’I
al-wafa’
|
Ba’I
= jual beli
Al-wafa’
= pelunasan atau penutupan utang
|
Ulama
fiqh
Jual
beli yang dilangsungkan dua pihak yang dibarengi dengan syarat bahwa barang
yang dijual itu dapat dibeli kembali oleh penjual, apabila tenggang waktu
yang ditentukan telah tiba.[1]
|
|
Ba’I
bithaman ajil
|
Ba’I
= jual beli/sale
Bithaman=
harga/price
Ajil=
cicilan/differement
|
Menjual
sesutau dengan disegerakan penyerahan barang-barang yang dijual kepada
pembeli dan ditangguhkan pembayarannya.[2]
|
|
Produk
|
Defenisi
|
|
|
Etimologi
|
Terminologi
|
|
|
Ba’I al-Inah
|
Cash
sale dan deffered payment sale
|
Pembelian
suatu barang pada harga yang diketahui secara cicilan dan kemudian orang
tersebut menjual barang itu kepada penjual asal dari mana barang itu dibeli,
secara tunai dengan harga penjualan yang lebih rendah daripada harga
pembeliannya yang dilakukan dengan cicilan.[3]
|
|
Ba’I
Tawarruq
|
Reverse
murabaha atau monetization
|
Akad jual beli yang melibatkan 3 pihak,
ketika pemilik barang menjual barangnya kepada pembeli pertama dengan harga
dan pembayaran tunda, dan kemudian pembeli pertama menjual kembali barang
tersebut kepada pembeli akhir dengan harga dan pembayaran tunai(lebih rendah
dari harga tunda).[4]
|
|
Ba’I
ad-dayn
|
Dayn=hutang
atau bayaran kepada harga barang
|
Akad
jual beli ketika yang diperjual belikan adalah dayn atau utang.[5]
|
2. Pendapat Ulama tentang Produk
Perbankan Syariah
Ba’I inah
|
Mazhab
|
Pendapat
|
Alasan
|
|
Hanafi
|
Dilarang
|
Boleh
jika melibatkan pihak ketiga (bukan sale and buy back)
|
|
Maliki
|
Dilarang
|
Cara
memanipulasi riba
|
|
Hambali
|
Dilarang
|
Cara
memanipulasi riba
|
|
Syafi’i
|
Boleh
|
Kontrak
dinilai dari apa yang terungkap niat diserahkan kepada Allah
|
|
Zahiri
|
Boleh
|
Kontrak
dinilai dari apa yang terungkap niat diserahkan kepada Allah.
|
Al-wafa’
Menurut
Musthafa Ahmad az-Zarqa, dan Abdurrahman Ashabuni dalam sejarahnya, ba’i
al-wafa’ baru mendapat justifikasi para ulama fiqh setelah berjalan beberapa
lama. Maksudnya, bentuk jual beli ini telah berlangsung beberapa lama dan ba’i
al-wafa’ telah menjadi urf (adat kebiasaan) masyarakat Bukhara dan Balkh. Baru
kemudian para ulama fiqh, dalam hal ini ulama Hanafi melegalisasi jual beli
ini.
Ulama Hanafiyah
dalam memberikan justifikasi terhadap ba’in al-wafa’ adalah didasarkan pada
istihsan urfi. Akan tetapi para ulama fiqh lainnya tidak boleh melagalisasi
jual beli ini. Alasan mereka diantaranya:
a.
Dalam suatu akad jual beli tidak dibenarkan
adanya tenggang waktu, karena jual beli adalah akad yang mengakibatkan
perpindahan hak milik secara sempurna dari penjual kepada pembeli.
b.
Dalam jual beli
tidak boleh ada syarat bahwa barang yang dijual itu harus dikembalikan oleh
pembeli kepada penjual semula, apabila ia telah siap mengembalikan uang seharga
jual semula.
c.
Bentuk jual
beli ini tidak pernah ada di zaman Rasulullah SAW maupun di zaman sahabat.
d.
Jual beli ini
merupakan hillah yang tidak sejalan dengan maksud syara’ pensyariatan jual
beli.[6][32]
Namun, para
ulama muta’akhiriin (generasi belakangan) dapat menerima baik bentuk jual beli
ini, dan menganggapnya sebagai akad yang sah. Bahkan dijadikan hukum positif
dalam majalah al-ahkam al’adhliyah (Kodifikasi Hukum Perdata Turki Ustmani)
yang disusun pada tahun 1287 H. Begitupun dalam hukum positif Indonesia ba’i
al-wafa’ telah diatur didalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah Pasal 1112 s/d
115.
Tawarruq
|
Ulama
|
Pendapat
|
Alasan
|
|
Zumhur
ulama
|
Boleh
|
Diartikan
sebagai jual beli
|
|
Bin
Baaz
|
Boleh
|
Berbeda
dengan ba’I inah dan memudahkan dan memungkinkan masyarakat memenuhi
kebutuhannya.
|
|
Ibnu
uthaimeen
|
Boleh
|
Merupakan
salah satu jenis pinjaman yang diperbolehkan dengan membeli suatu butir untuk
suatu pembayaran angsurran, kemudian menjualnya kepada orang lain.
|
|
Ibnu
Taimiyah
|
Dilarang
|
Sama
dengan ba’I inah dengan syarat:
a.
Jika
sedang kekurangan uang
b.
Tidak
memperoleh uang dengan cara yang diizinkan contoh pinjaman.
c.
Kotrak
tidak mengikuti format riba
d.
Pindah
gerak
|
|
Abu
Hanifa
|
Dilarang
|
Jika
melibatkan pihak ke-3
|
|
AAOIFI
|
Boleh
|
Dijual
ke pihak ke-3
|
Ad-dayn
Perdagangan di pasar sekunder atas utang
dan surat berharga yang berbasiskan utangtidak diperbolehkan melalui ba’I
al-dayn, seperti halnya dalam beragam sukuk yang diterbitkan di Malaysia. Akan
tetapi jumhur ulama tidak menerima hal ini walaupun hutang yang diwakili oleh
sukuk didukung oleh asset yang mendasarinya. Para ahli hokum tradisional muslim
sepakat mengenai persoalan bahwa ba’I al-dayn dengan diskontoatau premium
tidaklah diperbolehkan dalam Syariah.
Banyak
sekali cendekiawan kontemporer juga memegang pendapat yang sama. Akan tetapi
beberapa ahli dari Malaysia memperbolehkan penjualan seperti ini. Mereka
biasanya mengacu pada paham dari aliran Syafi’I, tapi tidak mempertimbangkan
fakta bahwa para ahli hokum syafii memperbolehkannya hanya pada kasus demana
suatu utang dijual pada nilai nominalnya utang itu.
Rosly dan
Sanusi , perdagangan obligasi islami dengan diskonto yang menggunakan al-dayn
tidak dapat diterima oleh Jumhur Ulama dan juga termasuk al-syafii. OIC
Iislamic Fiqh Council) juga menyetujui pelarangan atas ba’I al-dayn secara
sepakat tanpa adanya perbedaan pendapat sedikit pun.[7]
3. Contoh masing-masing akad di atas dan Skema
a.
Tawarruq
Real
Tawaruq
Tn.
A membeli kenderaan dari Bank BSM dengan membayar dibelakang. Kemudian Tn. A
menjual kenderaan tersebut kepada Tn.C secara tunai karena Tn. A memerlukan
dana tunai segera (likuiditas).
Organized
Tawarruq
Tn.
A membeli kenderaan dari BSM dengan membayar dibelakang atau dicicil. Kemudian
BSM menjual kenderaan tersebut ke Tn B dimana bank fungsinya hanya sebagai
agent. Dan kemudian Bank menyerahkan sejumlah uang tunai kepada Tn.A.
Real
Tawarruq
(1) Menjual
objek ke nasabah (3)
menjual objek ke pihak lain
Organized Tawarruq
(3) Barang dijual
kesuatu perusahaan/ditangguhkan
BANK PURCHASING
COMPANY
(1)Beli (2) penyerahan (3) dijual dengan
tunai
lebih rendah
dari harga beli
SUPPLIER GOOD
PAYER
b.
Ba’I
Bithaman Ajil
Nasanah
menentukan mobil yang akan dibeli ke pemilik kemudian bank membeli mobil yang
diinginkan nasabah ke pemilik asset. Kemudian bank menjual asset atau mobil
tersebut kepada nasabah.
3. bank menjual asset
HJ=H.Pokok+Margin

Nasabah bayar ke
bank dengan cicilan
Bank
mem- nasabah
menentukan asset yang akan dibeli
Li
asset dari
Pemilik
PEMILIK
ASET
c.
Ba’I Inah
Pembiayaan
pribadi (Aslah)
a)
BSM
menjual saham A dengan tangguh ke B. kemudian B menjualnya kembali ke A. bank
memperoleh keuntungan atas pembiayaan pribadi ini.
b)
M-cash
A
membeli tanah B dengan harga 100 juta dengan tunai. kemudian menjual dengan
tangguh dengan harga (H.Pokok+keuntungan) kepada B.
5) menyerahkan jumlah
pembiayaan secara tunai
Spesifikasi aset
d.
Ba’I
Ad-dayn
Jual
hutang dengan tunai
Andi berkata kepada Bank, saya menjual hutang saya yang ditangung tuan Ardi ke
BSM dengan harga 100 juta tunai.
Jual hutang dengan hutang
Andi
menjual hutang yang menjadi tanggungan C kepada BSM seharga 500juta dengan
pembayaran ditangguhkan.
BANK membayar dengan tangguh atau tunai NASABAH
Tanggungan
C
e.
Al-wafa’
Tn A membeli objek mobil dengan kredit ke bank dan bank membeli
stetlah dua tahun sesuai waktu yang telah disepakati diawal.
Membeli
barang ke bank
Nasabah
menjual setelah 2 tahun
menyerahkan
objek
4.persamaan dan perbedaan wafa’ inah dan tawarruq
Perbedaan
tawarruq dan inah
Para ahli hukum
mazhab hambali dan syafii membedakan tawarruq dan ba’I inah. Perbedaan antara
keduanya adalah bahwa dalam tawarruq (orang memerlukan liquiditas) menjual
barang tersebut kepada pihak ketiga, sedangkan dalam’inah pembeli menjual
barang tersebut kepada penjual yang sama dari siap dia membeli barang tersebut
(penjual asal) dengan perbedaan harga antara harga jual dan harga beli.
Persamaanba’iwafa’ dan ba’i
al-dayn
Sama-sama memperjualbelikanutang.sedangkan PerbedaannyaadalahBa’i
al-daynadalahakad jual
beli ketika yang diperjual belikan adalah dayn atau hutang. Dayn dapat
diperjual belikan dengan harga yang sama, tetapi sebahagian besar ulama Fuqaha
berpendapat bahwa jual beli dayn atau hutang dengan diskon tidak dibolehkan
secara syariah.Dan Ba’i al-wafa’ berarti jual beli yang mempunyai waktu yang
terbatas, misalnya satu tahun, sehingga apabila waktu tahun telah habis, maka
penjual membeli barang itu kembali dari pembelinya
Persamaan ba’i ‘inah dan ba’i
tawarruq
Sama
menggunakan sistem sale and buy back
yang yaitu ketika diakhir waktu akad adanya pembelian kembali apa yang telah
dijual.sedangkan Perbedaannya adalah Ba’i ‘inah yaitu menjual sebuah barang kepada seseorang dengan harga kredit, kemudian
dia membelinya lagi dengan harga kontan akan tetapi lebih rendah dari harga
kredit, Sedangkan ba’i tawarruq adalah penjulanbarang
yang baru dibelinya secara cicilan itu dijual kepada pihak ketiga
[1] Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah,(Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000), hal. 152.
[2] Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, (Jakarta: Kencana, 2012),
hal. 183.
[3] Sutan Remy Sjahdeini, Perbankan Syariah, (Jakarta:Kencana,
2014), hal. 236.
[4] Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, (Jakarta: Rajawali
Pers, 2013) , hal. 143.
[5] Ibid. hal. 191.
[7] Muhammad Ayyub, Understanding
Islamic Finance, (Jakarta: Gramedia, 2009), hal. 270
Tidak ada komentar:
Posting Komentar