Kamis, 15 Januari 2015

perbankan & keuangan: perbedaan cek dan giro

perbankan & keuangan: perbedaan cek dan giro: PERBEDAAN CEK DAN GIRO CEK : Cek adalah surat perintah dari seseorang yang mempunyai rekening di bank agar bank membayar sejumlah u...

Rabu, 14 Januari 2015

Patricia's Site: CEK DAN BILYET GIRO

Patricia's Site: CEK DAN BILYET GIRO: Cek Adalah cek sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang   (KUHD). Pengertian secara umum adalah surat yang berisi perintah ...

Minggu, 21 Desember 2014

Forkabas Febi: LAPORAN PERKEMBANGAN FORKABAS-FEBI

Forkabas Febi: LAPORAN PERKEMBANGAN FORKABAS-FEBI: LAPORAN PERKEMBANGAN FORKABAS-FEBI No: IN. 19/FORKABAS-FEBI/ 01/12/2014 1.       Pertemuan Pengurus Forkabas-Febi Tanggal       ...

Minggu, 23 November 2014

tugas Kegiatan Usaha Bank Syariah



MID SEMESTER KEGIATAN USAHA BANK

NAMA                       : JENNI
JURUSAN/SEM       : PS-2/ V (Lima)

SOAL:
1.      Sebutkan defenisi ba’I al-wafa’ , tawarruq, ba’I bithaman ajil, ba’I inah dan ad-dayn !
2.      Uraikan pendapat ulama terhadap produk Perbankan Syariah tersebut di atas !
3.      buatlah contoh masing-masing akad di atas dan jelaskan akad tersebut dalam bentuk bagan taransaksi di Perbankan Syariah !
4.      Uraikan persamaan dan perbedaan ba’I al-wafa’, tawarruq, ‘inah dan ad-dayn !
JAWAB
1.      Defenisi
Produk
Defenisi
etimologi
terminologi
Ba’I al-wafa’
Ba’I = jual beli
Al-wafa’ = pelunasan atau penutupan utang
Ulama fiqh
Jual beli yang dilangsungkan dua pihak yang dibarengi dengan syarat bahwa barang yang dijual itu dapat dibeli kembali oleh penjual, apabila tenggang waktu yang ditentukan telah tiba.[1]
Ba’I bithaman ajil
Ba’I = jual beli/sale
Bithaman= harga/price
Ajil= cicilan/differement
Menjual sesutau dengan disegerakan penyerahan barang-barang yang dijual kepada pembeli dan ditangguhkan pembayarannya.[2]

Produk
Defenisi
Etimologi
Terminologi
Ba’I al-Inah
Cash sale dan deffered payment sale
Pembelian suatu barang pada harga yang diketahui secara cicilan dan kemudian orang tersebut menjual barang itu kepada penjual asal dari mana barang itu dibeli, secara tunai dengan harga penjualan yang lebih rendah daripada harga pembeliannya yang dilakukan dengan cicilan.[3]
Ba’I Tawarruq
Reverse murabaha atau monetization
 Akad jual beli yang melibatkan 3 pihak, ketika pemilik barang menjual barangnya kepada pembeli pertama dengan harga dan pembayaran tunda, dan kemudian pembeli pertama menjual kembali barang tersebut kepada pembeli akhir dengan harga dan pembayaran tunai(lebih rendah dari harga tunda).[4]
Ba’I ad-dayn
Dayn=hutang atau bayaran kepada harga barang
Akad jual beli ketika yang diperjual belikan adalah dayn atau utang.[5]

2. Pendapat Ulama tentang Produk Perbankan Syariah
Ba’I inah
Mazhab
Pendapat
Alasan
Hanafi
Dilarang
Boleh jika melibatkan pihak ketiga (bukan sale and buy back)
Maliki
Dilarang
Cara memanipulasi riba
Hambali
Dilarang
Cara memanipulasi riba
Syafi’i
Boleh
Kontrak dinilai dari apa yang terungkap niat diserahkan kepada Allah
Zahiri
Boleh
Kontrak dinilai dari apa yang terungkap niat diserahkan kepada Allah.

Al-wafa’
Menurut Musthafa Ahmad az-Zarqa, dan Abdurrahman Ashabuni dalam sejarahnya, ba’i al-wafa’ baru mendapat justifikasi para ulama fiqh setelah berjalan beberapa lama. Maksudnya, bentuk jual beli ini telah berlangsung beberapa lama dan ba’i al-wafa’ telah menjadi urf (adat kebiasaan) masyarakat Bukhara dan Balkh. Baru kemudian para ulama fiqh, dalam hal ini ulama Hanafi melegalisasi jual beli ini.
Ulama Hanafiyah dalam memberikan justifikasi terhadap ba’in al-wafa’ adalah didasarkan pada istihsan urfi. Akan tetapi para ulama fiqh lainnya tidak boleh melagalisasi jual beli ini. Alasan mereka diantaranya:
a.        Dalam suatu akad jual beli tidak dibenarkan adanya tenggang waktu, karena jual beli adalah akad yang mengakibatkan perpindahan hak milik secara sempurna dari penjual kepada pembeli.
b.      Dalam jual beli tidak boleh ada syarat bahwa barang yang dijual itu harus dikembalikan oleh pembeli kepada penjual semula, apabila ia telah siap mengembalikan uang seharga jual semula.
c.       Bentuk jual beli ini tidak pernah ada di zaman Rasulullah SAW maupun di zaman sahabat.
d.      Jual beli ini merupakan hillah yang tidak sejalan dengan maksud syara’ pensyariatan jual beli.[6][32]

Namun, para ulama muta’akhiriin (generasi belakangan) dapat menerima baik bentuk jual beli ini, dan menganggapnya sebagai akad yang sah. Bahkan dijadikan hukum positif dalam majalah al-ahkam al’adhliyah (Kodifikasi Hukum Perdata Turki Ustmani) yang disusun pada tahun 1287 H. Begitupun dalam hukum positif Indonesia ba’i al-wafa’ telah diatur didalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah Pasal 1112 s/d 115.



Tawarruq
Ulama
Pendapat
Alasan
Zumhur ulama
Boleh
Diartikan sebagai jual beli
Bin Baaz
Boleh
Berbeda dengan ba’I inah dan memudahkan dan memungkinkan masyarakat memenuhi kebutuhannya.
Ibnu uthaimeen
Boleh
Merupakan salah satu jenis pinjaman yang diperbolehkan dengan membeli suatu butir untuk suatu pembayaran angsurran, kemudian menjualnya kepada orang lain.
Ibnu Taimiyah
Dilarang
Sama dengan ba’I inah dengan syarat:
a.       Jika sedang kekurangan uang
b.      Tidak memperoleh uang dengan cara yang diizinkan contoh pinjaman.
c.       Kotrak tidak mengikuti format riba
d.      Pindah gerak
Abu Hanifa
Dilarang
Jika melibatkan pihak ke-3
AAOIFI
Boleh
Dijual ke pihak ke-3

Ad-dayn
            Perdagangan di pasar sekunder atas utang dan surat berharga yang berbasiskan utangtidak diperbolehkan melalui ba’I al-dayn, seperti halnya dalam beragam sukuk yang diterbitkan di Malaysia. Akan tetapi jumhur ulama tidak menerima hal ini walaupun hutang yang diwakili oleh sukuk didukung oleh asset yang mendasarinya. Para ahli hokum tradisional muslim sepakat mengenai persoalan bahwa ba’I al-dayn dengan diskontoatau premium tidaklah diperbolehkan dalam Syariah.
Banyak sekali cendekiawan kontemporer juga memegang pendapat yang sama. Akan tetapi beberapa ahli dari Malaysia memperbolehkan penjualan seperti ini. Mereka biasanya mengacu pada paham dari aliran Syafi’I, tapi tidak mempertimbangkan fakta bahwa para ahli hokum syafii memperbolehkannya hanya pada kasus demana suatu utang dijual pada nilai nominalnya utang itu.
Rosly dan Sanusi , perdagangan obligasi islami dengan diskonto yang menggunakan al-dayn tidak dapat diterima oleh Jumhur Ulama dan juga termasuk al-syafii. OIC Iislamic Fiqh Council) juga menyetujui pelarangan atas ba’I al-dayn secara sepakat tanpa adanya perbedaan pendapat sedikit pun.[7]
3.  Contoh masing-masing akad di atas dan Skema
a.      Tawarruq
Real Tawaruq
Tn. A membeli kenderaan dari Bank BSM dengan membayar dibelakang. Kemudian Tn. A menjual kenderaan tersebut kepada Tn.C secara tunai karena Tn. A memerlukan dana tunai segera (likuiditas).


Organized Tawarruq
Tn. A membeli kenderaan dari BSM dengan membayar dibelakang atau dicicil. Kemudian BSM menjual kenderaan tersebut ke Tn B dimana bank fungsinya hanya sebagai agent. Dan kemudian Bank menyerahkan sejumlah uang tunai kepada Tn.A.





Real Tawarruq
                        BANK                                                                                    PIHAK KE 3
                                    (2)        Bayar tunda                (4) bayar tunai
                                                                        NASABAH
            (1)        Menjual objek ke nasabah                               (3) menjual objek ke pihak lain

           

            Organized Tawarruq

           
                        (3) Barang dijual kesuatu perusahaan/ditangguhkan


 
BANK                                                                                    PURCHASING COMPANY













 


(1)Beli         (2) penyerahan                                                     (3) dijual dengan
tunai
lebih rendah
 dari harga beli


SUPPLIER                                                                             GOOD PAYER



b.      Ba’I Bithaman Ajil
Nasanah menentukan mobil yang akan dibeli ke pemilik kemudian bank membeli mobil yang diinginkan nasabah ke pemilik asset. Kemudian bank menjual asset atau mobil tersebut kepada nasabah.

                  3. bank menjual asset HJ=H.Pokok+Margin
 

BANK                                                                                           NASABAH
                              Nasabah bayar ke bank dengan cicilan
Bank mem-                                                                                          nasabah
menentukan asset yang akan dibeli
Li asset dari
Pemilik

                                                            PEMILIK ASET



c.       Ba’I Inah
Pembiayaan pribadi (Aslah)
a)      BSM menjual saham A dengan tangguh ke B. kemudian B menjualnya kembali ke A. bank memperoleh keuntungan atas pembiayaan pribadi ini.
b)      M-cash
A membeli tanah B dengan harga 100 juta dengan tunai. kemudian menjual dengan tangguh dengan harga (H.Pokok+keuntungan) kepada B.



 
BANK                        1) nasabah mengajukan pembiayaan pribad    I           CUSTOMER
                        3) bank menjual asset dengan pembayaran ditangguhkan
                        4) membeli kembli asset yang dijual
                        5) menyerahkan jumlah pembiayaan secara tunai
                        6) membayar harga jual sesuai jadwal pembayaran
                        Spesifikasi aset
ASET



d.      Ba’I Ad-dayn
Jual hutang dengan tunai
Andi berkata kepada Bank, saya menjual hutang saya yang ditangung tuan Ardi ke BSM dengan harga 100 juta tunai.
Jual hutang dengan hutang
Andi menjual hutang yang menjadi tanggungan C kepada BSM seharga 500juta dengan pembayaran ditangguhkan.

                  Menjual hutang yang ditanggung orang lain
BANK       membayar dengan tangguh atau tunai                                    NASABAH








 
                                                      Tanggungan C
                              dayn                                                                           


e.       Al-wafa’
Tn A membeli objek mobil dengan kredit ke bank dan bank membeli stetlah dua tahun sesuai waktu yang telah disepakati diawal.

                  Membeli barang ke bank
Bank                                                                                                          nasabah
                  Nasabah menjual setelah 2 tahun
objek
                        menyerahkan objek


4.persamaan dan perbedaan wafa’ inah dan tawarruq
Perbedaan tawarruq dan inah
            Para ahli hukum mazhab hambali dan syafii membedakan tawarruq dan ba’I inah. Perbedaan antara keduanya adalah bahwa dalam tawarruq (orang memerlukan liquiditas) menjual barang tersebut kepada pihak ketiga, sedangkan dalam’inah pembeli menjual barang tersebut kepada penjual yang sama dari siap dia membeli barang tersebut (penjual asal) dengan perbedaan harga antara harga jual dan harga beli.

 Persamaanba’iwafa’ dan ba’i al-dayn
Sama-sama memperjualbelikanutang.sedangkan PerbedaannyaadalahBa’i al-daynadalahakad jual beli ketika yang diperjual belikan adalah dayn atau hutang. Dayn dapat diperjual belikan dengan harga yang sama, tetapi sebahagian besar ulama Fuqaha berpendapat bahwa jual beli dayn atau hutang dengan diskon tidak dibolehkan secara syariah.Dan Ba’i al-wafa’ berarti jual beli yang mempunyai waktu yang terbatas, misalnya satu tahun, sehingga apabila waktu tahun telah habis, maka penjual membeli barang itu kembali dari pembelinya

Persamaan ba’i ‘inah dan ba’i tawarruq
Sama menggunakan sistem sale and buy back yang yaitu ketika diakhir waktu akad adanya pembelian kembali apa yang telah dijual.sedangkan Perbedaannya adalah Ba’i ‘inah yaitu menjual sebuah barang kepada seseorang dengan harga kredit, kemudian dia membelinya lagi dengan harga kontan akan tetapi lebih rendah dari harga kredit, Sedangkan ba’i tawarruq adalah penjulanbarang yang baru dibelinya secara cicilan itu dijual kepada pihak ketiga











[1] Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah,(Jakarta: Gaya Media  Pratama, 2000), hal. 152.

[2] Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, (Jakarta: Kencana, 2012), hal. 183.
[3] Sutan Remy Sjahdeini, Perbankan Syariah, (Jakarta:Kencana, 2014), hal. 236.
[4] Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013) , hal. 143.
[5] Ibid. hal. 191.

[7] Muhammad Ayyub, Understanding Islamic Finance, (Jakarta: Gramedia, 2009), hal. 270